HUKUM MENJAWAB SALAM KEPADA NON MUSLIM

1] WAJIB JAWAB:

Ada penjelasan yang bermanfaat dari Ustadz Abdul Hakim dalam masalah ini iaitu di Al Masaa il jilid 7 Masalah ke 178 "Kewajiban Menjawab Salam".

Beliau membawakan ayat berikut :

{وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا (86)} [النساء : 86]

"Dan apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu." (QS. An Nisaa' : 86).

Kemudian berkata beliau

"Dan dari ayat yang mulia ini pun dapat dikeluarkan hukum: Bahwa menjawab salam orang orang kafir yang mengucapkan salam kepada kita dengan salam islami dengan FASIH dan dengan maksud MENGHORMATI dan memuliakan kita, bukan untuk MENGEJEK atau mengolok-olok kita, maka hukumnya wajib bagi kita

menjawab salam mereka sebagaimana perintah Allah di atas yang bersifat UMUM dan MUTLAK."

(Abdul Hakim bin Amir Abdat, Al Masaa il Jilid 7, Darus Sunnah, Jakarta, Cet. I, Oktober 2006, hal. 39).

Kemudian al Ustaz membawakan beberapa hadis lengkap dalam masalah ini sehingga dapat dilihat sebab- sebabnya. Salah satunya adalah ini:

Berkata Hisyam bin Zaid bin Anas bin Malik: Saya pernah mendengar Anas bin Malik berkata: Seorang Yahudi pernah lalu dihadapan Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam lalu dia mengucapkan (salam dengan ucapan): AS

SAAMU' ALAIKA. Maka Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam menjawabnya:

"WA'ALAIKA. Kemudian Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda (kepada para Sahabat): "Tahukah kamu apa yang dia ucapkan? Dia mengucapkan (salam kepadaku dengan ucapan): AS SAAMU'ALAIKA [ Kematian untuk kamu ]."

Para sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah, izinkan kami untuk membunuhnya?

Beliau menjawb: "Jangan! (Tetapi) apabila Ahlul Kitab memberi salam kepada kamu maka jawablah: "WA'ALAIKUM (saja)." (HR. Bukhari no. 6926).

Kemudian Ustaz Abdul Hakim melanjutkan,

"Dari beberapa riwayat sahih di atas dapatlah kita mengetahui dengan jelas sekali SEBAB SEBAB Nabi yang mulia Shallallahu'alaihi wa sallam telah memerintahkan para sahabat untuk menjawab salamnya orang orang Yahudi

dengan ucapan: WA 'ALAIKUM atau WA'ALAIKA saja tanpa tambahan SALAM dan seterusnya.

Yang menjadi penyebabnya: Apabila mereka memberi salam kepada Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam dan para sahabat mereka mengucapkan AS SAAMU 'ALAIKA atau AS SAAMU 'ALAIKUM. Sedangkan erti dari AS SAAMU adalah MATI atau Kematian. Oleh karena itu Nabi yang mulia Shallallahu'alaihi wa sallam bersama para sahabat mencukupi menjawab salam mereka dengan ucapan yang SAMA dengan apa yang telah mereka ucapkan yaitu :

WA'ALAIKA atau WA'ALAIKUM saja. Yakni ATASMU atau ATAS KAMU JUGA KEMATIAN." (Item hal 45).

Kemudian Ustaz Abdul Hakim melanjutkan lagi,

" Kemudian setelah kita mengetahui sababul wuruudil hadits dapatlah kita mengeluarkan hukumnya -karena hukum itu beredar bersama 'illat atau sebabnya, maka apabila telah hilang 'illatnya dengan sendirinya hukum

tersebut kembali kepada asalnya- yaitu: Kewajiban menjawab salam manusia hatta dia orang kafir atau musyrik, apabila mereka mengucapkan salam kepada kita dengan SALAM ISLAMI YANG FASIH dan dengan maksud menghormati kita dan bukan dengan lafazh AS SAAMU seperti yang pernah diucapkan orang orang Yahudi kepada Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam dan para shahabat. Karena 'illat atau sebab yang menyebabkan Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam memerintahkan para shahabat untuk menjawab salamnya orang orang Yahudi

dengan jawaban WA'ALAIKUM atau WA'ALAIKA saja telah HILANG atau tidak ada.

Yakni ketika mereka memberi salam kepada kita dengan salam islami yang fasih yaitu AS SALAAMU 'ALAIKUM, atau ASSALAMU 'ALAIKUM WA RAHMATULLAH, atau ASSALAMU'ALAIKUM WA RAHMATULLAH WA BARAKATUH, maka kewajiban kita menjawab salamnya dengan jawaban yang sama atau yang lebih baik sebagaimana perintah Allah Jalla Dzikruhu.

2] HARUS JAWAB :

1- Al-Imam al-Bukhari dalam kitabnya Al-Adab al-Mufrad di bawah tajuk Bab Kaif al-Radd ‘ala Ahl al-Zimmah (Bab Bagaimana Menjawab Salam Kafir Zimmi) meriwayatkan kata-kata Ibn ‘Abbas:

“Jawablah salam sama ada Yahudi, Nasrani atau Majusi. Ini kerana ALLAH berfirman (maksudnya dari Surah al-Nisa ayat 86) “Dan apabila kamu diberikan penghormatan dengan sesuatu ucapan hormat, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik daripadanya, atau balaslah dia (dengan cara yang sama). Sesungguhnya Allah sentiasa menghitung tiap-tiap sesuatu” (riwayatINI BERTARAF HASAN)

2- Dalam masa yang sama,hukum menjawab salam juga harus sekiranya golongan bukan Islam menyebut kalimah assalamualaikum sepertimana yang dinyatakan oleh Ibnu Al-Qayyim dan Imam Qaradawi.

kalau mereka menyebut assamualaikum, cukup dengan menjawab a’laikum.

3- Apabila non-Muslim mengucapkan salam: As-samu’alaikum, maka kita harus membalasnya dengan ucapan: Wa’alaikum. Perkataan beliau: Wa’alaikum”, merupakan dalil bahwa apabila mereka mengucapkan: ‘As-salaamu’alaikum”, yang berarti pada diri kamu ada keselamatan, maka kita juga membalas dengan ucapan yang sama.

Maka sebagian ulama berpendapat apabila orang-orang Yahudi dan nasrani mengucapkan secara jelas: “As-salaamu ‘alikum”, maka kita juga boleh membalas dengan ucapan: “Alaikum salam”.

KESIMPULAN :

1- Islam tidak pernah menghalang non-Muslim untuk memberikan ucapan Salam mereka terhadap kita selaku Orang Islam.

2- Cuma Islam mengajar, bagaimana cara terbaik untuk kita membalas ucapan salam ini. Maka balasan yang terbaik & memenuhi Sunnah adalah “ waa’laikum “

ADAKAH ORANG ISLAM YANG MENDENGAR SALAM ITU PERLU :

1- Mengucap 2 kalimah syahadah semula ?

2- Solat Sunat Taubat ?

3- Istighfar....?

TIDAK, sama sekali tidak. Nabi tak pernah suruh Sahabat mengucap pun, hatta dalam kes Yahudi cerca Nabi dengan Salam yang mendoakan KEMATIAN Nabi pun, Nabi minta Aisyah jawab “ waa’laikum “ sahaja.

Moga penjelasan ini, menjernihkan kembali kekeruhan minda & pengetahuan kita, bagaimana komunikasi yang terbaik antara kita dan non-Muslim. Kerana Islam ini adalah agama untuk semua,Allah ini Tuhan alam semesta bukan Tuhan orang-orang Islam sahaja

Wallahua’lam.

Read More
Dicatat oleh almunabbih on Thursday, July 21, 2011

A. HUKUM MEMULAKAN SALAM KEPADA NON MUSLIM
------------------------------------------------------------
Ada 2 pendapat dalam memulakan ucapan salam kepada non muslim itu, yaitu :

1] diperbolehkan

2] tidak diperbolehkan

1). pendapat yg memperbolehkan

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ (27)} [النور : 27]
”Wahai orang-orang yang telah beriman, janganlah memasuki rumah-rumah selain dari rumah kamu, sehingga kamu meminta izin dahulu dan memberi salam kepada penghuninya; itu lebih baik bagi kamu, mudah-mudahan kamu mengingat.” (Quran 24:27)

{وَقِيلِهِ يَا رَبِّ إِنَّ هَؤُلَاءِ قَوْمٌ لَا يُؤْمِنُونَ (88) فَاصْفَحْ عَنْهُمْ وَقُلْ سَلَامٌ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ (89)} [الزخرف : 88 - 89]

Dan (Dialah Tuhan yang Mengetahui rayuan Nabi Muhammad) yang berkata: “Wahai Tuhanku! Sesungguhnya mereka ini adalah satu kaum yang tidak mahu beriman (maka terserahlah kepadaMu untuk mengadilinya)!”

(Tuhan menjawab rayuannya dengan berfirman): “Jika demikian, maka janganlah engkau (wahai Muhammad) hiraukan mereka, dan katakanlah: ‘Selamat tingallah!’ Kemudian mereka akan mengetahui kelak (akibat keingkarannya),”

- melihat kepada ketiadaan larangan khusus dalam masalah ini sebagai dalil mengharuskannya.

- menerima lafaz umum al-Quran, yang meminta umatnya bercakap dengan perkataan yang baik

berdasarkan HADIS NABI SAW yaitu:


Apabila engkau menjumpainya engkau berikan salam kepadanya” (HR. Muslim dan Tirmidzi)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ


Maukah kamu aku kutunjukkan kepada sesuatu yang apabila kamu lakukan kamu akan saling mencintai? Yaitu sebarkanlah salam di antara kamu”(HR. Muslim)

Wahai manusia, sebarkanlah ucapan salam, hubungkanlah tali kekerabatan, berilah makanan, dan sholatlah pada waktu malam ketika orang-orang tengah tertidur, engkau akan masuk surga dengan selamat” (HR. Muslim)

“sesungguhnya seseorang itu akan mendapat balasan sesuai apa yang telah diniatkannya” (HR. Bukhori dan Muslim).

KOMENTAR PARA ULAMA

1) Imam Ibnul Qayyim dalam kitab Zaadul Ma'aad jilid 2 halaman 424 menuliskan bahwa sebagian ulama membolehkan untuk mendahului non muslim dalam memberi salam demi kemashlahatan yang kuat dan nyata amat diperlukan, atau karena kwatir dari ulah non muslim itu, atau karena adanya hubungan kekerabatan dengan mereka. Atau karena sebab-sebab lain yang seperti itu.

2) Imam Al-Qurtubi menyebutkan nama beberapa ulama salaf yang membolehkan memberi salam kepada non muslim. Di anataranya Ibnu Mas,ud,Hasan Al Basri, Nakahei, dan Umar Abdul Aziz.

3) Ibnu Hajar Al-asqalani menyebutkan di dalam kitabnya FathulBari bahawa Abu Umamah dan Ibnu Uyainah berpendapat sedemikian.

4) Abu Umamah berkata: Sesunguhnya Allah Taala menjadikan salam ini adalah untuk tahiyah(sambutan) kepada kita dan keamanan kepada orang bukan Islam(zimmi).

5) Imam Al Qaradawi telah membincangkan perkara ini di dalam kitabnya yang bernilai Fikh Jihad

6) begitu juga dengan Professor Dr Saadudin Hilali di dalam kitabnya Huququl Insan secara jelas yang boleh melegakan hati kita.

Imam Al-Qaradawi menyatakan bahawa sekumpulan ulama salaf berpendapat bahawa harus memberi salam kepada orang bukan Islam. Mereka berhujjah dengan beberpa ayat Al-Quran:

1: {لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ (8)} [الممتحنة : 8]

Terjemahan: Allah tidak melarang kamu kalian berbakti kepada mereka yang tidak memerangi dan tidak mengeluarkan kamu kalian daripada rumah-rumah kamu. Al- Mumtahanah ayat8.

Di antara melakukan kebaikan adalah memberi salam kepada mereka.

2: {قَالَ سَلَامٌ عَلَيْكَ سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّي إِنَّهُ كَانَ بِي حَفِيًّا (47)} [مريم : 47]

terjemahan: (kata-kata Nabi Ibrahim kepada ayahnya walaupun dia kafir)

Selamatlah ke atas kamu, aku akan meminta ampun kepada Tuhanku untuk kamu. Maryam ayat47.

3: {وَقِيلِهِ يَا رَبِّ إِنَّ هَؤُلَاءِ قَوْمٌ لَا يُؤْمِنُونَ (88) فَاصْفَحْ عَنْهُمْ وَقُلْ سَلَامٌ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ (89)} [الزخرف : 88 - 89]

Dan (Dialah Tuhan yang Mengetahui rayuan Nabi Muhammad) yang berkata: “Wahai Tuhanku! Sesungguhnya mereka ini adalah satu kaum yang tidak mahu beriman (maka terserahlah kepadaMu untuk mengadilinya)!”

(Tuhan menjawab rayuannya dengan berfirman): “Jika demikian, maka janganlah engkau (wahai Muhammad) hiraukan mereka, dan katakanlah: ‘Selamat tingallah!’ Kemudian mereka akan mengetahui kelak (akibat keingkarannya),”

WAJAH ISTIDLAL :

1- Tiada larangan khusus dalam masalah ini , jadi sebahagian daripada Ulama' mengharuskannya

2- Menerima lafaz umum al-Quran yang meminta umatnya bercakap dengan perkara yang baik

2). Pendapat yang tidak memperbolehkan

berdasarkan hadits Nabi yaitu:

لا تبدأوا اليهود والنصارى بالسلام

"Janganlah kalian memulai kaum yahudi dan jangan pula kaum nashrani dengan ucapan salam "

[Hadits Riwayat Muslim dalam As-Salam 2167]

KOMENTAR SYEIKH YUSUF AL-QARADAWI :

mengikut Imam Qaradawi,ia terbatas pada hari-hari peperangan sahaja. Ini kita boleh ketahui dengan meneliti keadaan hadis ini di mana Nabi ingin menuju ketempat yahudi, Nabi berkata “ Aku akan pergi menunggang esok menuju kegolongan yahudi,jangan mulakan mereka dengan salam”

Kalau kita perhatikan kata-kata Nabi, ini berlaku kerana Nabi ingin menghukum mereka kerana mengkhianati Nabi di dalam peperangan Azhab.

TEKS DALAM FIQAH INTERAKSI DENGAN NON-MUSLIM [ USTAZ MOHAMMAD NIZAM ABD KADIR – UIA]

- Namun pengharaman ini dibantahi dengan sebab wurud hadis [ sebab terbitnya hadis], iaitu kaitannya dengan Peperangan Bani Quraizah . Dalam peperangan itu, Yahudi Bani Quraizah telah mengkhianati Rasulullah dan Umat Islam. Ini bermakna sebelum peperangan tersebut, umat Islam telah mengamalkan budaya memberi salam kepada non-Muslim

[ halaman 22]


2- Surat Nabi kepada masyarakat Kuffar / non-Muslim ketika itu :

سلام على من اتبع الهدى

" Sejahteralah keatas mereka yang mengikuti petunjuk "

3- Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjawab :
Mendahului mengucapkan salam kepada orang non muslim adalah haram dan
tidak boleh. Sebab Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata : “Janganlah kamu memulai salam kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani. Apabila kamu bertemu mereka disuatu jalan, maka paksalah mereka kepada jalannya yang paling sempit.”

Juga tidak boleh memulai ucapan: Ahlan wa sahlan atau ucapan lain yang senada kepada mereka. Sebab di dalam ucapan ini terkandung pemuliaan dan pengagungan terhadap mereka. Tetapi apabila mereka lebih dahulu menyampaikan tersebut kepada kita, maka kita dapat membalasnya seperti apa yang dikatakan kepada kita.

Sebab Islam datang dengan membawa keadilan dan memberikan haknya kepada setiap orang yang memang berhak. Dan, sebagaimana yang sudah diketahui, orang-orang muslim lebih tinggi kedudukan serta martabatnya di sisi Allah. Maka tak selayaknya mereka merendahkan diri kepada orang-orang non muslim, dengan mengucapkan salam terlebih dahulu.

Kesimpulan jawaban ini dapat saya katakan, “Orang muslim tidak boleh memulai ucapan salam kepada orang-orang non-Muslim. Sebab Nabi Shallallahu alaaihi wa sallam melarang hal itu, disamping hal itu merendahkan martabat orang muslim bila harus mengagungkan orang non-muslim.

Orang muslim lebih tinggi kedudukannya di sisi Allah. Maka tidak selayaknya dia merendahkan diri dalam hal ini. Tetapi apabilamereka yang lebih dahulu mengucapkan salam kepada kita, maka kita boleh membalasnya seperti salam yang mereka ucapkan.

Kita juga tidak boleh lebih dulu memberi penghormatan kepada mereka, seperti ucapan ahlan wa sahlan wa marhaban (selamat datang), atau yang serupa dengan itu. Karena hal ini mengagungkan diri mereka seperti halnya salam.

(Sumber : Majmu’ Fatawa wa Rasa’il Fadhilatisy- Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin.)

KESIMPULAN

Apapun pertikaian pendapat para Ulama', eloklah diambil jalan tengah. Suasana Nusantara & Malaysia, tidak menunjukkan lafaz Salam yang sama dengan Tanah Arab.

Adapun Salam dengan lafaz " Assalamua'laikum " biarlah khusus untuk orang Islam sahaja.

Namunb, tidak menjadi masalah, jika kita bertegas untuk menggunakan lafaz ini ketika memberi salam kepada non-Muslim, kerana ia masih dalam ruang lingkup perbezaan pendapat para Ulama'.

Read More
Dicatat oleh almunabbih on

Berikut adalah jawapan terhadap persoalan berikut :
Guest "Salam Ustaz hukum mengazankan jenazah di liang kubur utk lelaki dan iqamat ut perempuan?"


Berikut ialah dapatan yang saya perolehi menerusi Kitab " Hukum-hakam Azan & Iqamah" yang disusun oleh Mohd Khidir Hussin B. Ibrahim. Pada halaman ke 13, beliau menaqalkan pandangan berikut : Perhatian, tidak disunatkan azan ketika " mayat dimasukkan kedalam kubur", menurut pendapat yang MUKTAMAD dikalangan Ulama' Mazhab Syafie. Perkara ini ada disebutkan oleh Imam Ibnu Hajar dalam Kitab Tuhfatul Muhtaj [ Jilid 1, muka surat 461], dengan katanya yang bermaksud " dan dikatakan (azan disunatkan) ketika menurunkan mayat kedalam kubur. Hukum sunat ini adalah dipetik daripada QIAS , kepada perkara pertama yang dilakukan keatas seseorang, semasa ia masuk ke alam dunia [ semasa dia dilahirkan], ialah dia diazankan. Maka dengan itu,semasa dia keluar daripada dunia, dan dimasukkan ke alam akhirat, maka dia juga diazankan !!!". Pendapat ini telah saya [ Ibnu Hajar], semasa membahaskan perkara yang saama di dalam Kitab Syarhul U'baab.
Wallahu a'lam.
Rujukan lain :
1- Sabilul Muhtadiin [ Juz 1,halaman 168, baris ke 11]
2- al- Fiqhu a'lal Mazahib Arbaa'h [ Juz 1, halaman 325 ]

Wallahu a'lam.

Read More
Dicatat oleh almunabbih on Thursday, July 14, 2011
0 ulasan
categories: | edit post

17 JUN 2011 PELIHARA AQIDAH DARI KHURAFAT MASJID SRI RANGGU

الحمد لله ذي الجلال والإكرام، الملك القدوس السلام، المؤمن المهيمن العلام. الذي منَّ علينا بأن هدانا إلى الإيمان والإسلام، وجعلنا من خير أمة أخرجت للناس والأنام، أَشْهَدُ أَنْ لاإِلهَ إِلا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ …أَمَّا بَعْدُ…..فَيَا عِبَادَ اللهِ ! اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاتمَوُْتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ …

Wahai hamba-hamba Allah ! Bertaqwalah sekalian kamu kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa. Dan Janganlah kamu mati melainkan dalam keadaan Islam.
Saya menyeru diri saya sendiri dan juga sidang Jumaat sekalian agar kita sama-sama meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah dengan melakukan segala suruhanNya dan menjauhi segala yang ditegahNya.

معشر المسلمين رحمكم الله

Sidang Jumaat yang diberkati Allah, dalam sebuah fakta terkini yang mengejutkan, Menteri di Jabatan Perdana Menteri Datuk Seri Jamil Khir Baharom, membentangkan di Parlimen Malaysia, bahawa Mahkamah Syariah di Malaysia telah menerima 863 kes permohonan daripada orang Islam, untuk menukar status agama Islam mereka kepada agama lain, sejak 10 tahun yang lalu, bermula dari tahun 2000 hingga 2010.

Mengikut kiraan Malaysiakini pula, jumlah permohonan untuk murtad adalah sebanyak 686, manakala permohonan yang diluluskan pula adalah 135 orang.

Jumlah permohonan untuk meninggalkan Islam yang terbesar adalah di Sabah – 238, Negeri Sembilan – 172, Selangor - 99 dan Perak – 47. Tiada permohonan murtad dicatatkan di Kelantan.Mengikut data yang dibekalkan, jumlah tertinggi kes Murtad yang diluluskan adalah dari Sabah iaitu seramai 67 orang dan diikuti dari Negeri Sembilan dengan 33 orang.

معشر المسلمين رحمكم الله

Bagaimanapun dalam Khutbah saya kali ini, saya suka untuk mengajak kita berfikir lebih jauh dari semua bancian di atas. Bagi saya umat Islam kini ditimpa penyakit dan 'virus' aqidah dan kepercayaan yang agak serius. Hasil dari penyakit ini, 'antibodi' iman umat Islam menjadi semakin luntur dan amat goyah, sehingga timbulnya isu murtad, kebencian kepada hukum hakam Islam, ambil mudah & sambil lewa berkenaan hukum dan bertindak mempelecehkan Islam secara sedar mahupun tidak sedar. Minat untuk menimba ilmu Islam juga menjadi semakin pudar, yang meningkat adalah dorongan untuk menyelesaikan sesuatu permasalahan itu, menerusi adat semata-mata.

Baru di pagi Khamis kelmarin, saya menerima khabar bahawa di sebuah sekolah rendah, telah didatangi oleh sepasang suami isteri dan seorang dukun. Bersama-sama mereka ialah 2 ekor ayam kampong & segenggam beras kuning yang dibawa bersama. Apa yang menyebabkan mereka ini datang, adalah ekoran daripada 2 kali anak kesayangan mereka jatuh sakit & pengsan di sekolah. Akhirnya setelah bertemu & menerima firasat sandro, katanya gangguan itu datangnya di kawasan sekolah. Maka untuk menghilangkan gangguan itu upacara “ meleppe’ manuk @ melepaskan ayam “ wajib dijalankan. Masyaallah, kenapakah peristiwa sebegini harus terjadi ? Kita dikenali sebagai orang yang tidak pernah meninggalkan sembahyang, tetapi dimanakah penghayatan terhadap lafaz syahadah yang kita ulang-ulangkan itu ?

Kononnya bila dijalankan upacara meleppe’ tadi, benda yang mengganggu semangat anak tadi akn beralih kepada ayam pula. Janganlah menghisap darah anak tadi, tapi hisaplah darah manuk yang dilepaskan. Janganlah lagi mengacau anak tadi, tapi kalau nak ganggu juga, berpindahlah kepada ayam. Kesian kepada ayam. Dia pula yang menjadi mangsa keadaan. Patutlah banyak ayam yang mati terkena sampar & hawar, gara-gara tertekan @stress dgn situasi sedemikian. Tapi, yang paling menghairankan jua, ada juga orang yang berani menangkap ayam & memelihara ayam yg telah dibaca jampi serapah tadi…bukankah ayam itu telah dicemari dengan ruh jahat padanya ? Kenapa kita pula berani berdampingan dengannya..

معشر المسلمين رحمكم الله

Perlu difahami bahawa, isu yang berkaitan dengan perkara ghaib seperti mengetahui perihal sejarah silam, ramalan bala, ramalan perkara yang akan datang, mengetahui sesuatu tentang gangguan makhlus halus dan yang seumpama dengannya adalah satu keyakinan yang mesti di sumberkan kepada 3 sumber sahaja. Iaitu :-
a) Al-Quran b) Hadith Sohih dan Hasan c) Fitrah kejadian alam (sunatullah)
Tanpa ketiga-tiga ini, kepercayaan tadi dengan mudah boleh membawa kepada gejala tilikan dan ramalan ghaib yang tidak diizinkan oleh Allah SWT dan RasulNya, sebagainya firmanNya di dalam surah al-Mukminun :

{وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ (71)}

Ertinya : "Andaikata kebenaran itu mengikuti hawa nafsu mereka, niscaya akan rusaklah langit dan bumi serta seluruh makhluk yang ada di dalamnya." (al-Mu'minun: 71)

Hasil dari kepercayaan ghaib tanpa didasari oleh tiga asas tadi, maka ramailah di kalangan umat Islam yang dihinggapi virus kerosakan aqidah. Isu berkaitan “melepaskan ayam” untuk sesuatu niat kesejahteraan ini adalah termasuk dalam bab : Tatayyur / Tiyarah ( Sial Menyial). Ia juga melibatkan gabungan unsure memohon sesuatu kepada selain Allah & percaya bulat-bulat kepada ramalan sandro dan dukun, semuanya ini adalah Khurafat dan menyesatkan.

معشر المسلمين رحمكم الله
Tatayyur atau Tiyarah berasal dari perkataan (
الطَّيْرُ ) : burung. Menurut kepercayaan orang Arab jahilyyah jika mereka akan mengadakan perjalanan, maka mereka terlebih dahulu akan melepaskan burung. Jika burung tersebut terbang ke arah kanan rumah maka mereka akan gembira tetapi jika sebaliknya terbang ke arah kiri maka mereka akan bersedih hati kerana itu petanda musibah akan menimpa dan mereka selanjutnya akan menangguhkan pemergian ke tarikh lain . Kalau masyarakat Arab Jahiliyyah dahulu melepaskan burung di udara, kita pula melepaskan manuk.
Mengambil sempena perbuatan inilah maka muncul istilah Tatayyur atau Tiyarah. Islam melarang keras tatayyur / tiyarah [atau 'membuang sial & keteguran ini'] . Rasulullah s.a.w. bersabda :

اَلطِّيَرَةُ شِرْكٌ ، اَلطِّيَرَةُ شِرْكٌ

Ertinya : Tiyarah itu syirik , tiyarah itu syirik ( HR Abu Daud dan Tarmidzi - Menurut Tarmidzi : Sahih )
معشر المسلمين رحمكم الله
Jadi jika ada perasaan murung mengenang nasib malang (musibah) yang akan menimpa (bad luck - unlucky) yang dikaitkan dengan hari, bulan, angka, ucapan, orang tertentu & tempat-tempat keras tertentu, ini ialah = Tiyarah. Jika wujud keyakinan seperti kenan, tersampuk hantu atau keteguran & kesialan ini juga adalah Tiyarah.

Tiyarah dihukumkan syirik kerana mengaitkan musibah yang menimpa kepada selain Allah dan meyakini musibah berpunca dari makhluk seumpama Jin @ Syaitan. Biarpun ia melibatkan Jin & Syaitan, ia tetap makhluk yang tidak sedikitpun memiliki kuasa mendatangkan manfa'at atau mudharat. Sebenarnya tiyarah berpunca daripada was-was syaitan yang menimbulkan perasaan takut. Jika hal ini terjadi maka ia dapat merosakkan tawakkal seseorang kepada Allah 'Azza Wa Jalla.

Tiyarah sebenarnya penyakit yang muncul sejak zaman silam lagi. Allah menerangkan orang-orang kafir telah melakukan tiyarah terhadap manusia pilihan Allah dari kalangan para rasul dan orang-orang yang beriman.

قَالُوا إِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهُوا لَنَرْجُمَنَّكُمْ وَلَيَمَسَّنَّكُمْ مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ (18) قَالُوا طَائِرُكُمْ مَعَكُمْ أَئِنْ ذُكِّرْتُمْ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ (19)

Mereka menjawab : " Sesungguhnya kami bernasib malang kerana kamu, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami ". Utusan-utusan itu berkata: " Kemalangan kamu itu adalah kerana kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu mengancam kami)? Sebinarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas ". ( Yaasiin : 18 - 19 )

Oleh itu Rasulullah s.a.w. mengajar umatnya jika ditimpa perasaan tersebut maka ia jangan hiraukan perasaan tersebut dan hendaklah ia segera berserah diri kepada Allah dengan membaca doa ini :

اَللَّهُمَّ لاَ يَأْتِى بِالْحَسَنَاتِ إِلاَّ أَنْتَ ، وَلاَ يَدْفَعُ السَّيِّئَاتِ إِلاَّ أَنْتَ ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِك .
Ya Allah, tiada yang dapat mendatangkan kebaikan kecuali Engkau, dan tiada yang dapat menolak keburukan kecuali Engkau, dan tiada daya dan tiada kekuatan melainkan dengan izin Engkau. ( Riwayat Abu Daud ).

Adapun ayam yang dilepaskan itu, daripada dilepaskan begitu sahaja atau diambil oleh sesiapa sahaja, alangkah baiknya digantikan budaya itu dengan sesuatu yang lebih Islamik & bertepatan dengan Syarak. Bukankah lebih bermanfaat ayam tadi dipotong, lantas dimasak sesuatu yang melazatkan seperti ayam masak likku’, lantas dijemput jiran-jiran terdekat untuk menikmatinya. Bukankah kenduri sebegitu amat dianjurkan Syarak kerana berbuat Ihsan terhadap sesame manusia. Bukankah amalan baik akan mengundang Rahmat keatas isi rumah tersebut ? Dan apabila isi rumah itu dirahmati Allah, pasti Allah akan menjamin keselamatan mereka dari gangguan Syaitan.

Siding Khutbah yang dirahmati Allah sekalian…

Daripada bacaan jampi serapah yang tidak jelas maknanya, alangkah baiknya jika dibacakan doa selamat & dipohon kesejahteraan, daripada Pemilik sekalian alam. Bukankah ini lebih dituntut agama, daripada meminta kepada yang bukanb-bukan ? Justeru, hindarilah siding khutbah sekalian, daripada budaya khurafat sebegini, kerana Rasulullah s.a.w. mengishtiharkan perang dengan sebarang dakwaan dusta yang tidak berlandaskan ilmu, petunjuk mahupun dalil syara'. Rasulullah membacakan ayat kepada mereka yang sering mempercayai firasat sandro tadi, dengan wahyu Allah dalam surah an-Naml: 65, yang berbunyi:

{قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ (65)} [النمل : 65]

"Katakanlah! Tidak ada yang dapat mengetahui perkara ghaib di langit dan di bumi melainkan Allah semesta, Bukan Malaikat, bukan jin dan bukan manusia yang mengetahui perkara-perkara ghaib.

Rasulullah juga menegaskan tentang dirinya dengan perintah Allah s.w.t. sebagai berikut:

{قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ (188]

"Kalau saya dapat mengetahui perkara ghaib, niscaya saya dapat memperoleh kekayaan yang banyak dan saya tidak akan ditimpa suatu musibah; tidak lain saya hanyalah seorang (Nabi) yang membawa khabar duka dan membawa khabar gembira untuk kaum yang mau beriman." (al-A'raf: 188).


Oleh karena itu, barangsiapa mengaku dapat mengetahui perkara ghaib yang sebenarnya, bererti dia mendustakan Allah, mendustakan kenyataan dan mendustakan manusia banyak


بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ وَاسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الُمْسِلِمْينَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ فَيَا فَوْزَ المُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ

Read More
Dicatat oleh almunabbih on Thursday, June 23, 2011

Total Pageviews

JADUAL KULIAH MAGHRIB & AKTIVITI DAKWAH SAYA

1- ISNIN : A] MSJD QUBA',[ TMN WAWASAN] QANUN JENAYAH SYARIYYAH

2- SELASA: MSJD BAITUR RAHMAN [MUHIBBAH BAL] TAFSIR & FIQH

3- RABU : MSJD AL-AMAN [ TANJUNG BATU ] APA YANG DISUKAI OLEH NABI SAW & APA YANG BAGINDA BENCI ?

4- KHAMIS MSJD AL-KAUTHAR [ BANDAR]

TAFSIR JUZ A'MMA

5- JUMAAT
1- TAWAU FM [KEMUSYKILAN AGAMA ]

2- MSJD BABUS SAA'DAH : [MUHIBBAH RAYA]
400 KESALAHAN DALAM SOLAT


6- AHAD : MASJID BANDAR
- HIDAYATUS SIBYAN
- FIQH BERINTERAKSI DENGAN NON-MUSLIM



Labels

Pautan

PENDAMPING SETIA

Demi Masa

Web Analytics